Ia menambahkan, sebagian pembeli mulai kembali masuk pasar setelah menunggu cukup lama, meskipun level di atas 4.900 ringgit per ton dinilai terlalu mahal.
Survei Reuters menunjukkan persediaan minyak sawit Malaysia pada Maret diperkirakan turun paling besar dalam tiga tahun dan mencapai level terendah sejak Juli tahun lalu, seiring lonjakan ekspor yang lebih besar dibandingkan kenaikan produksi.
Data resmi pasokan dan permintaan akan dirilis oleh Malaysian Palm Oil Board (MPOB) pada 10 April mendatang.
Kenaikan harga CPO juga sejalan dengan lonjakan harga minyak mentah global yang menguat tajam akibat konflik di Timur Tengah, di mana minyak mentah AS naik lebih dari 11 persen dan Brent hampir 8 persen pada perdagangan sebelumnya.
Pergerakan minyak ini ikut mengangkat harga minyak nabati karena CPO bersaing langsung dengan minyak kedelai dan minyak nabati lainnya di pasar global.