“Pergerakan aset keuangan saat ini sangat dipengaruhi harga minyak, dan harga emas juga tidak terkecuali,” kata analis UBS, Giovanni Staunovo, sebagaimana dikutip Reuters.
“Penurunan harga minyak mendorong emas karena pasar memperkirakan dampaknya terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed),” imbuh Staunovo, seraya menambahkan bahwa tren tersebut diperkirakan berlanjut dalam waktu dekat.
Harga emas telah turun sekitar 14 persen sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari, tertekan oleh tingginya harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi serta prospek suku bunga AS yang lebih tinggi.
Pelaku pasar kini melihat peluang 40 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga AS sebesar 25 basis poin pada Desember.
Angka itu berubah tajam dibandingkan ekspektasi sebelum konflik pecah, ketika para ekonom memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini.