IDXChannel - Harga minyak dunia diperkirakan bergerak volatil pada pekan ini, di tengah dinamika geopolitik yang belum mereda, terutama terkait buka-tutup jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Pada akhir pekan, pengiriman minyak sempat terhenti setelah Iran kembali memperketat kontrol atas jalur strategis tersebut, hanya beberapa hari sebelum masa gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS) berakhir.
Sebelumnya, Iran sempat membuka akses pelayaran, namun kembali menutupnya dengan alasan pelanggaran kesepakatan oleh AS.
Mengutip Reuters, negosiasi kedua negara juga masih berlangsung tanpa kejelasan, meski masing-masing pihak mengklaim ada kemajuan.
Kondisi ini menjadi risiko utama bagi pasar energi global.
Setiap eskalasi di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga dalam jangka pendek, meski dalam sepekan terakhir minyak justru terkoreksi tajam.
Harga minyak menguat pada awal perdagangan Asia, Senin (20/4/2026) pagi, dipicu kembali memanasnya ketegangan di Selat Hormuz.
Amerika Serikat (AS) dilaporkan menembaki, menaiki, dan menyita kapal berbendera Iran pada Minggu saat menuju pelabuhan Bandar Abbas, Iran, setelah dicegat, menurut laporan The Wall Street Journal yang mengutip Komando Pusat AS.
Analis ANZ Research menyebut situasi saat ini kompleks dan sangat fluktuatif.
Mereka menilai pemulihan pasar energi ke kondisi sebelum konflik tidak akan mudah, bahkan setelah jalur pelayaran tersebut sepenuhnya dibuka kembali.
Kontrak berjangka (futures) minyak mentah WTI untuk pengiriman terdekat melonjak 8,0 persen ke USD90,53 per barel, sementara Brent naik 6,7 persen ke USD96,45 per barel pada Senin pagi.
Pada perdagangan Jumat (17/4) pekan lalu, harga minyak anjlok signifikan. Kontrak berjangka Brent turun 9,07 persen ke USD90,38 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot lebih dalam 11,45 persen ke USD83,85 per barel.
Secara teknikal, menurut analis FXEmpire, James Hyerczyk, tren utama WTI masih berada dalam fase penurunan. Harga kini menguji area support krusial di kisaran USD79,73 hingga USD78,97 per barel.
Jika level ini ditembus, penurunan berpotensi berlanjut ke area USD73,56, bahkan menuju rata-rata pergerakan 200 hari (MA-200) di sekitar USD65,49.
Sebaliknya, jika terjadi rebound, resistance terdekat berada pada kisaran USD91,66 hingga USD94,65.
Dengan volatilitas tinggi, kata Hyerczyk, pasar cenderung berada dalam pola “sell on rally, buy on dip”, sehingga pelaku pasar perlu mencermati pergerakan harga secara hati-hati.
Di sisi fundamental, dampak konflik Iran telah memangkas pasokan global secara signifikan.
Menurut catatan Reuters, lebih dari 500 juta barel minyak dan kondensat dilaporkan keluar dari pasar sejak akhir Februari, menjadikannya salah satu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern.
Selain itu, produksi global juga masih tertekan dengan gangguan mencapai sekitar 12 juta barel per hari, sementara pemulihan diperkirakan berjalan lambat.
Sejumlah ladang minyak di Kuwait dan Irak bahkan membutuhkan waktu hingga lima bulan untuk kembali ke level normal. (Aldo Fernando)