Penurunan harga minyak diyakini akan membantu menekan inflasi kembali ke level normal sekaligus mempermudah langkah bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dalam menjaga stabilitas ekonomi tanpa perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut.
“Biaya energi yang jauh lebih rendah akan mempermudah tugas The Fed dan mengurangi tekanan bagi pemerintahan Trump untuk memberikan stimulus fiskal agresif menjelang pemilu paruh waktu,” tulis analis Alpine Macro.
Firma tersebut mengatakan, aksi jual di pasar obligasi kemungkinan segera berakhir, sebab tekanan harga akibat tarif impor dan lonjakan energi sebelumnya diperkirakan tidak akan bertahan lama.
Di sisi lain, Alpine Macro menyebut kinerja laba emiten yang kuat, tidak adanya kenaikan suku bunga The Fed, serta ekspektasi turunnya harga minyak telah membuat pasar saham tetap resilien.
(DESI ANGRIANI)