“Perusahaan kilang dan rumah perdagangan tengah mencari barel alternatif, dan AS merupakan produsen terbesar,” ujar analis UBS, Giovanni Staunovo, dikutip Reuters.
Wakil presiden analisis minyak di Rystad Energy, Janiv Shah, mengatakan beberapa faktor turut memicu perbedaan kinerja antara WTI dan Brent pada Jumat.
Menurutnya, tingginya tingkat produksi kilang akibat margin yang menguntungkan serta peluang arbitrase yang kuat ke Eropa menjadi penyebab perbedaan pergerakan kedua kontrak tersebut.
Menteri Energi Qatar mengatakan kepada Financial Times, seluruh produsen energi di kawasan Teluk diperkirakan menghentikan ekspor dalam beberapa pekan ke depan.
Langkah tersebut dinilai berpotensi mendorong harga minyak hingga USD150 per barel, menurut wawancara yang dipublikasikan pada Jumat.