“Skenario terburuk sedang berkembang di depan mata kita,” kata Partner Again Capital, John Kilduff.
Kilduff menambahkan, “Saya pikir proyeksi harga USD100 per barel akan menjadi kenyataan.”
Reli tajam harga minyak dimulai setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu lalu.
Serangan tersebut mendorong Iran menghentikan kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz.
Pasokan minyak yang biasanya melewati jalur ini mencapai sekitar 20 persen dari permintaan global setiap hari.