Dengan Selat Hormuz secara efektif tertutup selama tujuh hari, sekitar 140 juta barel minyak, setara 1,4 hari konsumsi global, tidak dapat mencapai pasar.
Konflik tersebut kini meluas ke sejumlah wilayah penghasil energi utama di Timur Tengah, mengganggu produksi dan memaksa penutupan kilang serta fasilitas gas alam cair.
“Setiap hari Selat Hormuz tetap tertutup, harga minyak akan terus naik,” kata Staunovo.
Staunovo melanjutkan, “Pasar sebelumnya percaya Trump mungkin akan menarik diri karena tidak menginginkan harga minyak tinggi. Namun semakin lama itu tidak terjadi, semakin jelas besarnya risiko yang ada.”
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Reuters dalam wawancara pada Kamis bahwa ia tidak khawatir dengan kenaikan harga bensin di AS akibat konflik tersebut.