“Data China yang lebih lemah, termasuk aktivitas investasi, penjualan ritel, dan output industri yang melambat, menambah kekhawatiran terhadap permintaan, khususnya dari sektor manufaktur,” tulis ING Economics, dikutip Reuters.
Di sisi lain, dolar AS kembali menguat setelah sempat terkoreksi pada Senin, sehingga tetap memberikan tekanan terhadap logam industri.
Harga minyak juga melemah, dengan Brent turun di bawah USD110 per barel.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada Senin bahwa dirinya menunda rencana serangan terhadap Iran setelah menerima proposal perdamaian dari Teheran, sehingga menjaga harapan tercapainya kesepakatan damai.
Sementara itu, analis Citi menyebut aluminium berpotensi memasuki tren bullish terbesar dalam 50 tahun terakhir setelah perang Iran memicu guncangan besar pasokan global.
Citi memperkirakan sekitar 3 juta ton pasokan aluminium hilang dari pasar, mendorong pasar masuk ke kondisi defisit struktural ketika kapasitas cadangan hampir habis dan persediaan berada di level terendah dalam 55 tahun.