Sebaliknya, sektor transportasi justru tampil sebagai outperformer setelah saham ELPI melonjak signifikan pasca aksi divestasi anak usaha kepada grup Prajogo Pangestu.
“Pergerakan ini menunjukkan bahwa di tengah market-wide correction, pasar masih memberikan premium valuation terhadap emiten yang memiliki corporate action dan katalis spesifik yang jelas,” kata dia.
Di pasar komoditas, dinamika geopolitik masih menjadi motor utama pergerakan harga. Harga minyak dunia terus menguat akibat kekhawatiran undersupply global, sementara batu bara tetap bertahan solid didorong shifting konsumsi energi Asia dari LNG menuju coal akibat konflik berkepanjangan.
Kondisi ini sebenarnya masih memberikan tailwind bagi emiten batubara domestik. Sementara itu, harga emas mulai mengalami profit taking setelah pasar menilai peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil. Untuk nikel, koreksi harga lebih dipengaruhi aksi profit taking dan tingginya inventori global dibanding perubahan fundamental jangka panjang.
Di dalam negeri, keputusan pemerintah menunda kenaikan royalti minerba menjadi sentimen positif bagi emiten tambang dan operator smelter karena dapat menjaga margin profitabilitas tetap stabil di tengah volatilitas global.