“Situasi ini membuat Dollar AS terus menguat dan menekan mata uang emerging markets, termasuk Rupiah yang sempat menyentuh level terlemah baru di Rp17.520 per dolar AS," katanya.
Ia menjelaskan di saat bersamaan, konflik geopolitik Timur Tengah dan terganggunya jalur distribusi energi global akibat krisis Selat Hormuz membuat harga minyak melonjak tajam di atas USD105 per barel.
“Kombinasi dolar yang kuat, harga minyak tinggi, dan arus keluar asing akhirnya menciptakan tekanan berlapis terhadap pasar domestik,” ujar Imam.
Meski tekanan pasar terlihat luas, imbuhnya, pergerakan sektoral menunjukkan adanya rotasi yang cukup menarik. Sektor energi menjadi salah satu yang paling terpukul akibat keluarnya beberapa saham besar dari MSCI, khususnya DSSA dan BREN yang diperkirakan menghadapi passive outflow bernilai triliunan rupiah.
Pelemahan sektor ini lebih bersifat technical driven dibandingkan penurunan fundamental komoditasnya.