Yulius menjelaskan, dampak surutnya Sungai Mahakam terutama dirasakan oleh operasi Trubaindo Coal Mining dan Bharinto Ekatama yang menggunakan jalur Sungai Mahakam. Sementara itu, operasi Indominco Mandiri yang berada dekat dengan laut tidak menghadapi kendala serupa.
Dengan kondisi tersebut, menurut Yulius, perseroan masih dapat mengkompensasi penurunan volume dari tambang yang terdampak melalui operasi lainnya. Dari sisi biaya, kenaikan ongkos angkutan tersebut juga dinilai tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan keseluruhan volume penjualan perusahaan.
"Karena kondisi Sungai Mahakam ini lebih banyak terjadi di Trubaindo Coal Mining dan Bharinto Ekatama yang menggunakan Sungai Mahakam, sedangkan kita masih ada Indominco Mandiri yang mana tidak terdampak dengan keringnya Sungai Mahakam, karena posisinya dekat dengan laut," jelas Yulius.
Direktur Utama ITMG Mulianto mengatakan kondisi tersebut terutama dirasakan oleh sejumlah tambang perseroan yang berada di wilayah hulu dan mengandalkan Sungai Mahakam untuk aktivitas pengangkutan batu bara. Diperkirakan selisih cost pengiriman batu bara dari adanya fenomena tersebut sekitar 30-40 persen dibanding periode normal.
"Saya kira ini adalah fenomena yang banyak dialami oleh tambang-tambang di Kalimantan terutama yang berada di hulu. Pada prinsipnya bahwa beberapa tambang kita terutama yang ada di Melak, itu mengalami kendala seperti turunnya debit air dan turunnya permukaan air," ujar Mulianto.