Menurutnya, kondisi permukaan air yang rendah membuat perseroan tidak dapat melakukan kegiatan pemuatan batu bara dengan kapasitas seperti biasanya. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi risiko tongkang kandas ketika melintasi sungai. Ia menyebut volume pengiriman dari tambang yang terdampak juga dapat turun sekitar 30-40 persen, hal ini bergantung pada kondisi dan level air di Sungai Mahakam.
"Tentu saja itu cost yang sedikit ter-impact karena kita tidak bisa melakukan loading sesuai dengan kapasitas yang ada, karena kita khawatir itu akan kandas. Tetapi pada prinsipnya kita coba atur adalah sekitar antara 30-40 persen lebih rendah tergantung situasi dan keadaan level air di Sungai Mahakam," jelasnya.
Di sisi lain, Mulianto melihat kondisi tersebut tidak sepenuhnya menjadi tekanan bagi perusahaan. Gangguan pengiriman akibat kondisi sungai berpotensi mengurangi pasokan batubara dan pada akhirnya dapat memberikan dorongan terhadap harga komoditas.
"Ini seperti dua sisi, di satu menimbulkan kenaikan biaya, tetapi di sisi yang lain boleh dibilang, ini fenomena yang mem-push harga batu bara menjadi lebih tinggi," tutur Mulianto.
Sebagai informasi, ITMG memiliki sejumlah operasi tambang batubara. Indominco Mandiri menjadi salah satu tambang dengan produksi terbesar, dengan produksi pada semester I 2026 mencapai 3,4 juta metrik ton.