sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Ini Sederet Sentimen yang Menyebabkan Rupiah Melemah Sepekan Terakhir

Market news editor Anggie Ariesta
21/07/2024 14:14 WIB
Nilai tukar (kurs) Rupiah selama sepekan perdagangan 15-19 Juli 2024 masih bergerak melemah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (USD).
Ini Sederet Sentimen yang Menyebabkan Rupiah Melemah Sepekan Terakhir. (Foto MNC Media)
Ini Sederet Sentimen yang Menyebabkan Rupiah Melemah Sepekan Terakhir. (Foto MNC Media)

IDXChannel - Nilai tukar (kurs) Rupiah selama sepekan perdagangan 15-19 Juli 2024 masih bergerak melemah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (USD).

Mengutip data Bloomberg, Minggu (21/7/2024), Rupiah spot pekan ini ditutup melemah 0,22 persen pada level Rp16.191 per USD. Dalam sepekan Rupiah melemah 0,33 persen dibandingkan penutupan di awal pekan.

Sementara itu, Rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) ditutup pada level Rp16.199 per USD, Jumat (19/7/2024). Secara mingguan, Rupiah terpantau turun 0,27 persen dan melemah sekitar 0,24 persen secara harian.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen ancaman pembunuhan terhadap calon Presiden Donald Trump membuat dolar AS mengalami penguatan.

"Yang sebelumnya dolar ini melemah disebabkan oleh spekulasi penurunan suku bunga, ternyata yang efeknya lebih kecil dibandingkan dengan percobaan pembunuhan terhadap Donald Trump," kata Ibrahim saat dikonfirmasi, Minggu (21/7/2024).

Sehingga, lanjut Ibrahim, di dalam taruhan di AS, Donald Trump akan memenangkan pilpres melawan Joe Biden. Ada prediksi peperangan di Timur Tengah dan Rusia-Ukraina akan mereda jika Trump menang.

Sementara itu, pergerakan politik AS mendorong saham-saham di bursa Wall Street dan dunia bergejolak. Saham di AS menguat, namun di Asia rontok karena sentimen ekonomi China dan bukan karena pengangkatan Wakil Menteri di Indonesia.

"Ucapan dari Donald Trump akan melakukan perang dagang membuat Trump kemungkinan besar akan memenangkan pilpres di bulan November membuat harga saham di Asia berguguran dan berdampak dengan IHSG di Indonesia," kata Ibrahim.

"Sehingga pelemahan mata uang Rupiah tidak ada kaitannya dengan pengangkatan Wamen Keuangan, Wamen Pertanian dan lainnya yang hari Jumat kemarin dilantik oleh Presiden Jokowi," ujarnya.

Pada saat BI memutuskan untuk kembali menahan suku bunganya di level 6,25 persen pada Juli 2024, Rupiah terhadap dolar AS sempat mencapai posisi terkuat sejak 28 Mei 2024 pada Rabu (17/7/2024). Melansir dari Refinitiv, Rupiah ditutup menguat 0,49 persen di angka Rp16.095 per USD saat itu.

Meski nilai tukar bertahan di bawah Rp16.200, Rupiah di awal pekan depan masih diprediksi akan bergerak fluktuatif cenderung melemah di rentang Rp16.180-Rp16.240 per USD.

(YNA)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement