AALI
9725
ABBA
394
ABDA
0
ABMM
1420
ACES
1220
ACST
232
ACST-R
0
ADES
3000
ADHI
1025
ADMF
7725
ADMG
198
ADRO
1815
AGAR
330
AGII
1505
AGRO
1925
AGRO-R
0
AGRS
176
AHAP
81
AIMS
456
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
920
AKRA
4190
AKSI
424
ALDO
1035
ALKA
244
ALMI
250
ALTO
272
Market Watch
Last updated : 2021/12/03 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
501.87
-1.3%
-6.63
IHSG
6538.51
-0.69%
-45.31
LQ45
938.93
-1.11%
-10.56
HSI
23766.69
-0.09%
-22.24
N225
28029.57
1%
+276.20
NYSE
0.00
-100%
-16133.89
Kurs
HKD/IDR 1,845
USD/IDR 14,395
Emas
819,409 / gram

Intip Deretan Saham Energi yang Naik dan Turun Akibat Krisis Energi Dunia

MARKET NEWS
Ni Ketut Candra Puspita
Senin, 25 Oktober 2021 17:20 WIB
Berikut ini adalah daftar saham-saham energi yang turun dan naik akibat krisis energi dunia.
Intip Deretan Saham Energi yang Naik dan Turun Akibat Krisis Energi Dunia. (Foto: MNC Media)
Intip Deretan Saham Energi yang Naik dan Turun Akibat Krisis Energi Dunia. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Pada Oktober 2021 ini, beberapa negara di dunia mengalami krisis energi akibat naiknya harga batu bara saat pasokan menipis. Krisis energi ini juga memengaruhi naik dan turunnya saham-saham energi di Indonesia dan di dunia.

Setiap perusahaan yang sudah go public memiliki prospek saham emiten energi tersendiri. Terdapat banyak daftar saham sector energi di Indonesia. Beberapa contohnya seperti PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Medco Energi Tbk (MEDC), dan masih banyak lagi. Saham-saham energi ini mulai mengalami kenaikan dan penurunan sejak 12 Oktober 2021 lalu.

Melansir dari berbagai sumber tim litbang MNC Portal Indonesia, pada Senin (25/10/2021), berikut ini adalah daftar saham-saham energi yang turun dan naik akibat krisis energi dunia.

  1. PT Adaro Energy Tbk (ADRO)

PT Adaro Energy Tbk merupakan pertambangan unggul dan juga produsen batubara terbesar kedua di Indonesia. Pertambangan besar dan tunggal di Indonesia yang terletak di Kalimantan Selatan dioperasikan oleh perusahaan ini. Nilai saham perusahaan ini, turun 1,57% ke posisi Rp1.885 per saham pada 12 Oktober lalu. Namun, meskipun mengalami penurunan signifikan, secara akumulatif saham perusahaan ini terus bergerak melesat hingga 50% dan 74% sejak akhir Agustus lalu. 

  1. PT Harum Energy Tbk (HRUM)

Sejak 1955, PT Harum Energy Tbk menjadi induk perusahaan dengan portofolio usaha di bidang pertambangan batu bara dan kegiatan logistic. Lokasi utama perusahaan adalah di Kalimantan Timur, Indonesia. Saham perusahaan ini melemah 0.61% ke posisi Rp8.200 per saham akibat krisis energi dunia. Namun setelah itu, HRUM mengalami kenaikan kembali sebesar 1,22% ke Rp8.300 per saham. Saham ini telah naik 63,33% dalam sebulan terakhir. Secara year to date, saham HRUM telah naik 174,33%.

  1. PT Bumi Resources Tbk (BUMI)

Perusahaan milik Grup Bakrie ini bergerak positif meskipun sering mengalami naik turun. Pada sesi pertama, PTBA minus 1,73%. Namun, pada 14 Oktober 2021 lalu, saham ini sempat mengalami peningkatan hingga 2,3% menjadi Rp89 per saham. Dalam tiga bulan terakhir, sama PTBA telah menunjukkan penguatan. BUMI telah mengalami peningkatan hingga lebih dari 70% sejak Agustus 2021 lalu.

  1. Indika Energy (INDY)

INDY mengalami penurunan hingga 0,47% di harga Rp2.140 pada sesi pertama sebelum akhirnya meningkat. Pada perdagangan Jumat, 15 Oktober 2021 lalu, saham INDY ditutup dengan peningkatan 0.88% di level Rp2.280 per saham. Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, INDY telah mengalami peningkatan sebesar 65.89% dan year to date sebesar 23,70%. INDY juga berhasil memperoleh transaksi 1,2 miliar saham dalam sebulan terakhir dengan nilai yang mencapai Rp2,2 triliun.

  1. Indo Tambangraya Megah (ITMG)

Saham ITMG ini diakhir pekan minggu kedua Oktober lalu, mengalami peningkatan 1,76% di level Rp26.000. Meskipun menguat tipis sebesar 0,61% ITMG sudah berhasil melesat jauh 76,92% selama tiga bulan terakhir. Total year to date untuk saham ITMG ini adalah mencapai 78,52%. Sebanyak 113,3 juta saham berhasil terjual dengan nilai mencapai Rp2,3 triliun. Saham ini dinilai akan terus mengalami peningkatan hingga mencapai Rp32.000 per saham di akhir tahun. (FHM)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD