Menurut Bhima, jumlah pelaku produksi baja tulangan di pasar domestik saat ini memang sangat banyak, hingga mencapai sekitar 60 pabrik yang berproduksi secara reguler. Kondisi ini membuat tekanan harga di pasar baja dalam negeri jadi cukup signifikan.
"(Kondisi) Ini membuat KOS terus merugi di hampir sepanjang 10 tahun beroperasinya di Indonesia. Memang sangat disayangkan," ujar Bhima, dalam kesempatan terpisah.
Bhima menjelaskan, situasi ini menjadi semakin miris, mengingat terjadi di tengah kondisi ekonomi global dan domestik yang sedang mengalami penurunan tren akibat perang, terutama di sektor baja.
Dalam catatan CELIOS, KOS menjadi 'korban' kedua atas gempuran produk baja impor murah, setelah sebelumnya hal serupa juga terjadi pada pabrik Metal Steel Group milik Ispatindo yang beroperasi di Surabaya.
Dalam pandangan Bhima, permasalahan ini dapat terjadi lantaran dipicu oleh krisis struktural industri baja domestik akibat banjir impor baja murah asal China.