“Berdasarkan diskusi kami dengan perusahaan, instruksi tersebut belum diterapkan dan harga masih bergerak mengikuti mekanisme pasar,” tulis Halima dan Aurelia.
Apabila kebijakan tersebut benar-benar diberlakukan, Indo Premier memperkirakan terdapat risiko penurunan laba sebesar 3-39 persen terhadap proyeksi kinerja 2026-2028, dengan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menjadi emiten yang paling terdampak karena memiliki ketergantungan lebih besar terhadap pembelian TBS dari pihak eksternal.
Dengan meredanya kekhawatiran terhadap kebijakan DSI, Indo Premier mempertahankan rekomendasi overweight terhadap sektor perkebunan. Rekomendasi tersebut juga didukung oleh valuasi yang lebih menarik setelah harga saham sektor sawit terkoreksi 14-23 persen sejak 18 Mei 2026.
Meski demikian, analis tetap menilai perkembangan regulasi menjadi faktor utama yang perlu terus dicermati oleh investor. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.