Sementara itu, laba bruto turun 11 persen menjadi Rp1,24 triliun, lebih kecil imbas beban pokok penjualan yang lebih rendah. Laba bruto dari segmen department store mencapai Rp1,17 triliun, sedangkan supermarket hanya Rp70 miliar.
Namun, laba usaha turun 23 persen menjadi Rp196 miliar akibat beban usaha yang tak mampu menahan penurunan kinerja lebih dalam. Segmen department store membukukan laba operasional Rp219 miliar, sementara supermarket rugi Rp23 miliar.
Selain itu, Ramayana mencatat adanya pendapatan sewa Rp116 miliar dan pendapatan keuangan Rp119 miliar. Alhasil, laba bersih turun 16 persen menjadi Rp265 miliar, lebih kecil dengan laba per saham Rp44,73.
Pendapatan Ramayana pada kuartal IV-2025 naik 30 persen secara kuartalan menjadi Rp487 miliar meski secara tahunan turun 25 persen. Dengan penurunan tersebut, perseroan membukukan rugi bersih Rp8 miliar di kuartal akhir, berbanding terbalik dari kuartal III-2025 yang mencatat laba Rp43 miliar dan Rp61 miliar pada kuartal IV-2024.
Penjualan Ramayana dari Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara masih mendominasi dengan porsi 63 persen, diikuti Sumatera 15 persen, Sulawesi dan Papua 12 persen, serta Kalimantan 10 persen.
(Rahmat Fiansyah)