Limpahan permintaan kemudian banyak mengalir ke Johor, Malaysia, karena lokasinya dekat dengan Singapura, biaya pengembangan lebih murah, dan ketersediaan lahan lebih luas.
Namun, pertumbuhan pesat tersebut mulai menekan sumber daya setempat. Malaysia pun memperketat penyaringan kebutuhan listrik dan air untuk proyek DC, sementara Johor membatasi fasilitas yang membutuhkan konsumsi air tinggi pada 2026.
Menurut UOB Kay Hian, kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia yang memiliki pasar besar namun penetrasi DC masih relatif rendah.
Sejumlah operator internasional seperti DayOne, Princeton, AirTrunk, dan NTT telah memperluas kehadiran di Indonesia. Di sisi domestik, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), dan Sinar Mas juga tengah mengembangkan pipeline DC dalam skala besar.
Dari sisi biaya, Jakarta memiliki keunggulan dibandingkan Singapura. Biaya pembangunan DC di Jakarta pada 2025 tercatat sekitar USD11,21 per watt, dibandingkan USD14,53 per watt di Singapura.