Salah satunya adalah SMX01 di Jakarta, fasilitas Tier IV yang AI-ready dengan kapasitas awal 18 MW dan dapat ditingkatkan hingga 60 MW. Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026.
Selanjutnya, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) melalui Sinergi Inti Data Indonesia (SIDI) saat ini mengelola sekitar 1 MW di Gedung Cyber I dan berencana membangun green data center di Purwakarta pada lahan seluas 180-200 hektare yang ditargetkan beroperasi pada kuartal III-2026.
Dari sisi profitabilitas, operator DC yang berfokus pada hyperscaler (HS) umumnya mampu menghasilkan margin EBITDA sekitar 50-60 persen. Bisnis neo-cloud ISAT bahkan menargetkan margin EBITDA sekitar 80 persen, mencerminkan nilai ekonomi yang lebih tinggi dari infrastruktur AI dan GPU.
“Secara keseluruhan, DCII menawarkan eksposur paling murni terhadap bisnis data center, sementara TLKM, ISAT, DSSA, dan INET memberikan eksposur yang lebih luas, mencakup data center, konektivitas, AI, hingga infrastruktur kelistrikan,” tulis analis UOB.
Power, Konstruksi, hingga Kawasan Industri Ikut Menikmati
Dampak ekspansi DC tidak hanya dirasakan oleh operator pusat data. Kebutuhan listrik, pembangunan fasilitas, lahan industri, serta konektivitas juga menciptakan peluang bagi emiten lain.