sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

MSCI dan Risiko Dana Asing, JP Morgan Soroti Tekanan Pasar Indonesia

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
31/03/2026 07:00 WIB
Pengumuman dari lembaga pengelola indeks global MSCI terkait investabilitas Indonesia di awal 2026 mengguncang pasar keuangan domestik.
MSCI dan Risiko Dana Asing, JP Morgan Soroti Tekanan Pasar Indonesia. (Foto: MSCI)
MSCI dan Risiko Dana Asing, JP Morgan Soroti Tekanan Pasar Indonesia. (Foto: MSCI)

IDXChannel – Pengumuman dari lembaga pengelola indeks global MSCI terkait investabilitas Indonesia di awal 2026 mengguncang pasar keuangan domestik dan memicu kekhawatiran arus keluar dana asing dalam jumlah besar.

Dalam laporan Global Investment Strategy – March 2026, JP Morgan menyebutkan pasar saham Indonesia mengalami awal tahun yang bergejolak setelah pengumuman MSCI tersebut.

IHSG tercatat mengalami penurunan hingga sekitar 23 persen dari level tertinggi sepanjang masa hingga 30 Maret 2026, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan status pasar Indonesia dan risiko keluarnya dana asing besar-besaran.

JP Morgan memperkirakan potensi arus keluar dana dari pasar saham Indonesia dapat mencapai lebih dari USD10 miliar (Rp169,5 triliun) akibat penurunan status MSCI ke frontier market.

Tekanan terbesar diperkirakan terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi incaran investor global.

Beberapa saham dengan potensi arus keluar terbesar antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sekitar USD2,06 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) USD1,29 miliar, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) USD966 juta, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) USD889 juta, serta PT Astra International Tbk (ASII) USD631 juta.

Selain itu, saham seperti Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Amman Mineral Internasional (AMMN), Barito Renewables Energy (BREN), Bumi Resources Minerals (BRMS), Bank Negara Indonesia (BBNI), hingga GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) juga berpotensi terkena tekanan arus keluar dana.

Secara total, estimasi arus keluar mencapai USD9,8 miliar dengan dampak terhadap volume perdagangan sekitar 22,6 kali rata-rata transaksi harian.

JP Morgan menilai kekhawatiran MSCI terhadap Indonesia tidak hanya terkait likuiditas pasar, tetapi juga menyangkut transparansi kepemilikan saham dan integritas pasar.

Hal ini membuat investor asing semakin berhati-hati terhadap investabilitas Indonesia.

Sebagai respons, pemerintah dan regulator pasar modal Indonesia meluncurkan paket reformasi agresif untuk meningkatkan kepercayaan investor.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menaikkan batas minimal kepemilikan publik (free float) dari 7,5 persen menjadi 15 persen, memperketat persyaratan IPO dengan free float 15-25 persen, serta memberikan sanksi khusus hingga delisting bagi emiten yang tidak patuh.

Selain itu, transparansi kepemilikan saham diperketat dengan menurunkan ambang pelaporan kepemilikan dari 5 persen menjadi 1 persen serta memperluas klasifikasi investor untuk mengidentifikasi saham yang benar-benar likuid.

Bursa Efek Indonesia (BEI) juga akan mempublikasikan daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi guna mencegah manipulasi pasar.

Regulator juga meningkatkan pengawasan terhadap praktik “goreng saham” melalui investigasi skema pump and dump serta membentuk kantor liaison OJK langsung di bursa untuk memberikan data real-time kepada MSCI dan investor global.

Di sisi lain, laporan tersebut menunjukkan tren penurunan kepemilikan asing di pasar Indonesia.

Kepemilikan asing pada saham domestik turun hampir 25 persen dalam beberapa tahun terakhir, sementara kepemilikan obligasi pemerintah kini didominasi investor domestik hingga sekitar 87 persen.

Kepercayaan investor yang melemah juga tercermin pada nilai tukar rupiah yang sempat menembus level tertinggi sepanjang sejarah di atas Rp17.000 per dolar AS pada awal 2026, bahkan melampaui level krisis Asia 1998.

Meski demikian, JP Morgan menilai Indonesia masih memiliki fundamental penting dari sektor komoditas.

Sekitar 80 persen ekspor barang Indonesia berasal dari komoditas dan berkontribusi sekitar 26 persen terhadap PDB, dengan dominasi produksi global pada nikel, kelapa sawit, batu bara, timah, karet, hingga batu bara.

Dengan reformasi yang sedang berjalan, arah kebijakan pemerintah akan menjadi kunci dalam menjaga status investabilitas Indonesia dan menahan arus keluar dana asing dalam jangka menengah.

Investor saat ini menantikan pengumuman indeks MSCI pada Mei mendatang. WH Project mencatat, review indeks MSCI yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026 menjadi salah satu agenda paling ditunggu pasar. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement