sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Narasi AI Bukan Cuma Data Center dan Lahan Industri, Analis Soroti Peluang di Bisnis Pipa

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
01/09/2026 10:09 WIB
Demam kecerdasan buatan (AI) dan pembangunan data center mulai mengerek sejumlah saham di bursa domestik.
Narasi AI Bukan Cuma Data Center dan Lahan Industri, Analis Soroti Peluang di Bisnis Pipa. (Foto: Magnific)
Narasi AI Bukan Cuma Data Center dan Lahan Industri, Analis Soroti Peluang di Bisnis Pipa. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Demam kecerdasan buatan (AI) dan pembangunan data center mulai mengerek sejumlah saham di bursa domestik yang dianggap sebagai penerima manfaat langsung (beneficiary).

Namun, analis Mandiri Sekuritas menilai peluang investasi justru tidak hanya berada pada perusahaan data center dan kawasan industri.

Analis Mandiri Sekuritas Robin Sutanto dan Danif Nouval Esfandiari melihat pembangunan infrastruktur AI berpotensi menciptakan efek rambatan (spillover) ke sektor yang selama ini kurang diperhatikan, terutama material dan pipa.

Dalam riset yang terbit pada 31 Agustus 2026 bertajuk “AI Picks & Shovels: Mapping Out the Spillovers”, keduanya menilai sebagian reli saham yang berkaitan dengan data center sudah terlalu tinggi jika dibandingkan dengan dampak riil yang berpotensi diterima perusahaan.

Sebaliknya, sejumlah emiten material dinilai memiliki ruang kenaikan yang belum sepenuhnya tercermin dalam harga saham.

Kebutuhan AI Dorong Konsumsi Listrik dan Pendinginan

Menurut Mandiri Sekuritas, pembangunan data center berbasis AI memiliki kebutuhan infrastruktur yang jauh berbeda dibandingkan data center konvensional.

Server AI menggunakan banyak GPU secara bersamaan sehingga membutuhkan konsumsi listrik jauh lebih besar. Konsumsi sebuah rak server AI dapat mencapai 200 kilowatt (kW), atau sekitar 20 kali lipat dibandingkan rak server konvensional yang berada di kisaran 10 kW.

Sebagai gambaran, sistem Nvidia Blackwell GB200 NVL72 membutuhkan daya sekitar 120 kW.

Besarnya konsumsi energi tersebut juga menghasilkan panas yang jauh lebih tinggi. Setiap megawatt listrik yang masuk ke rak pada dasarnya harus dilepaskan kembali dalam bentuk panas.

Kondisi tersebut membuat teknologi pendinginan konvensional berbasis udara semakin tidak memadai untuk rak server AI berkapasitas tinggi. Karena itu, penyedia infrastruktur AI mulai mengadopsi liquid cooling atau sistem pendinginan berbasis cairan.

Dalam teknologi direct-to-chip cooling, selang dan pipa digunakan untuk menghubungkan chip server dengan unit distribusi pendingin.

"Potensi bottleneck dalam pembangunan infrastruktur ini dapat memberikan peluang bagi perusahaan material seperti AVIA dan ISSP," tulis analis Mandiri Sekuritas.

AVIA dan ISSP Berpeluang dari Kebutuhan Pipa

Mandiri Sekuritas melihat kebutuhan pipa berpotensi menjadi salah satu titik kemacetan (bottleneck) dalam ekspansi infrastruktur AI.

Hal ini membuka peluang bagi PT Avia Avian Tbk (AVIA), yang selama ini dikenal sebagai produsen dan distributor cat.

Sekitar 20 persen pendapatan AVIA berasal dari bisnis distribusi barang, yang sebagian besar berupa pipa air.

Meskipun margin bisnis tersebut lebih rendah dibandingkan bisnis cat, peningkatan permintaan pipa dapat memberikan katalis terhadap pertumbuhan pendapatan yang dinilai belum sepenuhnya diperhitungkan pasar.

Sementara itu, PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) dinilai menjadi eksposur yang lebih langsung terhadap pembangunan data center. Produk pipa baja ISSP telah digunakan untuk kebutuhan rak dan struktur data center.

Kendati demikian, analis mencatat likuiditas perdagangan saham ISSP yang relatif rendah masih menjadi tantangan.

Kawasan Industri Dinilai Tak Seluruhnya Menarik

Di sisi lain, Mandiri Sekuritas justru lebih berhati-hati terhadap saham kawasan industri yang belakangan ikut terdorong narasi data center.

Menurut analis, manfaat pembangunan data center terhadap pengelola kawasan industri akan lebih terbatas apabila perusahaan hanya mengandalkan penjualan lahan dan tidak mampu menangkap pendapatan berulang dari kebutuhan listrik maupun air.

DMAS dan BEST disebut menghadapi keterbatasan tersebut. Keduanya telah mencatat kenaikan sekitar 24-36 persen dalam sebulan, jauh di atas kenaikan IHSG sekitar 5 persen.

Mandiri Sekuritas menilai kenaikan tersebut relatif berlebihan jika dibandingkan dengan dampak fundamental yang dapat diperoleh dari ekspansi data center.

SSIA juga masih memiliki model bisnis yang didominasi penjualan lahan. Namun, perusahaan memiliki land bank yang besar di Subang sehingga masih membuka peluang untuk mendapatkan eksposur lebih besar terhadap pembangunan data center, meski lokasinya relatif lebih jauh.

KIJA Dinilai Jadi Penerima Manfaat Utama

Dari sejumlah emiten kawasan industri yang masuk cakupan analis, KIJA dinilai sebagai penerima manfaat paling menarik.

Pasalnya, KIJA memiliki pembangkit listrik tenaga gas berkapasitas 130 MW di Cikarang melalui anak usahanya, Bekasi Power.

Bekasi Power saat ini menghadapi pembatasan operasi akibat kelebihan pasokan listrik di Jawa, termasuk penghentian operasi yang diwajibkan berdasarkan perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) dengan PLN.

Namun, peningkatan kebutuhan listrik akibat ekspansi AI berpotensi mengubah kondisi tersebut. Lonjakan permintaan listrik dari data center dapat membuka kembali peluang pemanfaatan kapasitas pembangkit.

Risikonya, PPA Bekasi Power dengan PLN akan berakhir pada 2032.

Indonesia Punya Potensi Besar

Dalam riset tersebut, Mandiri Sekuritas juga mengutip hasil pertemuan dengan Nusantara Data Centre Academy. Indonesia diperkirakan memasuki fase ekspansi data center yang sangat pesat.

Kapasitas data center dalam pipeline di Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar empat kali lipat hingga 2030 menjadi 2 gigawatt (GW).

Indonesia dinilai memiliki sejumlah keunggulan di tengah keterbatasan kapasitas di pusat data center regional.

Faktor pendukung tersebut antara lain ketersediaan lahan, harga air dan listrik yang relatif rendah, serta regulasi yang dinilai lebih longgar. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6 7
Advertisement
Advertisement