IDXChannel - Penerbitan obligasi negara berkembang yang mencetak rekor pada awal tahun kini hampir terhenti di tengah kekhawatiran terhadap perang Timur Tengah yang memicu gejolak pasar dan menaikkan biaya pinjaman.
Para bankir dan investor mengatakan faktor geopolitik membuat sejumlah negara berada dalam ketidakpastian.
Situasi ini menyoroti rapuhnya banyak ekonomi negara berkembang yang hingga sebulan lalu masih dibanjiri permintaan terhadap surat utang mereka, meskipun di tengah tarif dan gejolak geopolitik.
Namun, Angola menjadi salah satu pengecualian pada bulan ini. Angola adalah produsen minyak yang diuntungkan oleh lonjakan harga minyak mentah.
"Semua pembahasan pendanaan masih berlangsung, tetapi dengan pendekatan hati-hati sambil menunggu perkembangan,” kata Co-Head Debt Financing di Citi, Victor Mourad, dilansir Reuters, Jumat (27/3/2026).
Negara-negara berkembang seperti Arab Saudi, Meksiko, dan Turki telah menerbitkan utang pada Januari dan Februari dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Hal itu membuat penjualan utang kuartal pertama tetap mencetak rekor meskipun penerbitan pada Maret sangat minim.
Pemerintah dan korporasi di kawasan Eropa Tengah dan Timur, Timur Tengah, serta Afrika berhasil menghimpun dana sebesar USD117,5 miliar, sekitar USD3 miliar lebih tinggi dibandingkan tiga bulan pertama 2025, bahkan sebelum Angola masuk ke pasar pekan ini.
Angola menjadi salah satu dari sedikit negara berkembang yang spread kreditnya menyempit sejak agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari.
Hal ini menunjukkan investor kini meminta premi risiko yang lebih kecil untuk meminjamkan dana kepada negara produsen minyak Afrika Barat tersebut dibandingkan sebelum perang.
Perusahaan infrastruktur telekomunikasi yang berfokus di Afrika, Helios Towers, juga menerbitkan utang pekan ini.
Namun bagi banyak pihak lainnya, situasinya jauh lebih sulit. Investor menarik dana sebesar USD3,3 miliar dari obligasi negara berkembang pada pekan hingga 19 Maret, serta lebih dari USD5 miliar dari obligasi korporasi berimbal hasil tinggi, menurut Bank of America.
Penarikan terakhir tersebut merupakan arus keluar terbesar sejak guncangan tarif AS pada April 2025.