sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Penggunaan Bahan Bakar Alternatif Naik 24 Persen, SIG (SMGR) Pangkas Pemakaian Batu Bara

Market news editor Taufan Sukma Abdi Putra
23/04/2026 18:57 WIB
SIG senantiasa berkomitmen dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui penerapan prinsip lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG).
Penggunaan Bahan Bakar Alternatif Naik 24 Persen, SIG (SMGR) Pangkas Pemakaian Batu Bara (foto: iNews Media Group)
Penggunaan Bahan Bakar Alternatif Naik 24 Persen, SIG (SMGR) Pangkas Pemakaian Batu Bara (foto: iNews Media Group)

IDXChannel - PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), atau SIG, mengeklaim keberhasilannya dalam memanfaatkan bahan bakar alternatif, di mana sepanjang 2025 lalu terjadi peningkatan hingga 24 persen, menjadi 681 ribu ton, atau setara dengan pengurangan penggunaan batu bara hingga 467 ribu ton.

Dengan Capaian tersebut, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang produksi semen ini telah mendorong peningkatan thermal substitution rate menjadi 9,77 persen.

"Melalui berbagai inisiatif strategis, SIG membuktikan bahwa kinerja keberlanjutan dapat berjalan seiring dengan kinerja bisnis, bahkan memperkuat ketahanan operasional perusahaan," ujar Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, dalam keterangan resminya, Rabu (22/4/2026).

Di tengah meningkatnya urgensi isu perubahan iklim, menurut Vita, pihaknya senantiasa berkomitmen dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui penerapan prinsip lingkungan, sosial dan tata kelola (environmental, social and governance/ESG) yang terintegrasi dalam strategi bisnis yang dijalankan.

Hal tersebut, di antaranya, coba diwujudkan melalui peningkatan pemanfaatan energi terbarukan serta percepatan reklamasi lahan pascatambang.

"Bahkan semangat keberlanjutan itu kini telah menjadi keunggulan kompetitif bagi kami, yang mendorong inovasi sekaligus menjaga stabilitas operasional Perseroan," ujar Vita.

Vita menjelaskan, salah satu terobosan utama SIG adalah optimalisasi penggunaan bahan bakar alternatif yang berasal dari limbah industri, biomassa, hingga sampah perkotaan yang diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF).

Selain berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) industri, inisiatif ini juga menjadi solusi atas persoalan limbah sekaligus membuka nilai ekonomi baru, termasuk bagi sektor pertanian melalui pemanfaatan biomassa.

Tak hanya itu, lanjut Vita, pihaknya juga terus memperluas pemanfaatan energi bersih melalui pemasangan panel surya di berbagai unit operasional serta pemanfaatan teknologi Waste-Heat Recovery Power Generation (WHRPG) untuk mengonversi panas buang menjadi listrik.

"Upaya tersebut membuahkan hasil dengan penurunan intensitas emisi GRK cakupan 1 sebesar 21 persen dibandingkan baseline 2010, serta penurunan emisi cakupan 2 sebesar 15 persen dibandingkan baseline 2019," ujar Vita.

Sementara di sektor pertambangan, SIG juga menjalankan praktik berkelanjutan melalui penataan dan pemulihan ekosistem. Hingga 2025, perusahaan telah mereklamasi lahan pascatambang seluas 628 hektare yang tersebar di berbagai wilayah operasional.

Komitmen tersebut mendapat pengakuan dari pemerintah melalui enam penghargaan PROPER Hijau 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup, yang diraih oleh sejumlah pabrik semen yang dioperasikan oleh SIG dan entitas anak.

"Ke depan, kami tegaskan bakal terus mempercepat transformasi industri bahan bangunan dengan pendekatan yang lebih efisien, inovatif, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan," ujar Vita.

(taufan sukma)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement