IDXChannel - Harga emas dunia melonjak lebih dari 3,85 persen hingga menembus USD4.964,62 per troy ons pada Jumat (6/2/2026) pekan lalu, sekaligus mencatatkan kenaikan mingguan 1,41 persen setelah sepekan berayun tajam.
Mengutip Trading Economics, reli ini terjadi ketika tanda-tanda pelonggaran ekonomi Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi berpadu dengan efek lanjutan penjualan paksa, memicu volatilitas pasar.
Pemulihan harga menyusul gelombang likuidasi pada akhir Januari yang dipicu kenaikan persyaratan margin serta aksi jual tajam di perak yang merembet ke pasar logam mulia.
Tekanan tersebut sempat menekan harga sebelum pembeli kembali masuk.
Data ketenagakerjaan AS yang melemah, dengan klaim pengangguran mingguan awal naik ke 231 ribu dan pengumuman pemutusan hubungan kerja melonjak menjadi sekitar 108 ribu pada Januari, memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan Federal Reserve (The Fed) tahun ini.
Kondisi itu menurunkan ekspektasi imbal hasil riil dan menghidupkan kembali minat fundamental terhadap emas.
Sementara itu, perundingan AS-Iran di Oman yang disebut sebagai awal yang baik meredakan risiko eskalasi dalam waktu dekat tanpa menghapus ketidakpastian yang lebih luas, sehingga tetap menopang daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Pelemahan dolar AS serta pembangunan kembali posisi investor turut memperkuat rebound harga.
Prospek Sepekan
Survei Mingguan Emas Kitco News terbaru menunjukkan kembalinya kepercayaan pelaku Wall Street terhadap kekuatan emas dalam jangka pendek.
Sementara itu, investor ritel masih mempertahankan mayoritas pandangan bullish, meski belum sepenuhnya pulih dari tekanan kerugian pekan lalu.
“Naik,” ujar Presiden dan COO Asset Strategies International Rich Checkan. “Koreksi pada emas dan perak selama sepekan terakhir sudah berlebihan. Secara fundamental, tidak ada yang berubah bagi emas. Yang berubah hanya harganya,” imbuh dia.
“Harga emas berpotensi naik lebih tinggi, dengan asumsi sebagian besar proses deleveraging di berbagai pasar sudah terjadi, terutama di pasar kripto dan perak,” kata Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen.
Sebanyak 18 analis berpartisipasi dalam Survei Emas Kitco News, dengan Wall Street mencerminkan optimisme baru setelah rebound emas yang solid.
Sebanyak 12 analis, atau 67 persen, memperkirakan harga emas kembali menembus USD5.000 dalam sepekan ke depan.
Hanya dua analis, atau 11 persen, yang memprediksi penurunan. Sementara empat analis lainnya, atau 22 persen, menilai risiko pergerakan harga relatif berimbang.
Di sisi lain, jajak pendapat daring Kitco mencatat 329 suara, dengan investor Main Street mulai mendingin terhadap emas tanpa sepenuhnya meninggalkannya.
Sebanyak 210 trader ritel, atau 64 persen, memperkirakan harga emas melanjutkan kenaikan pekan ini.
Sebanyak 62 responden, atau 19 persen, memprediksi penurunan, sementara 57 investor lainnya, atau 17 persen, memperkirakan harga bergerak mendatar.
Meski pekan ini tidak padat agenda rilis data ekonomi, sejumlah indikator berpotensi menggerakkan pasar.
Pada Minggu malam, Jepang akan memilih pemerintahan berikutnya, yang dapat berdampak signifikan terhadap yen, serta pasar mata uang global dan obligasi pemerintah.
Selanjutnya, pada Selasa pagi, pasar akan mencermati data Penjualan Ritel AS untuk Desember.
Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang sempat tertunda akan dirilis pada Rabu, disusul klaim pengangguran mingguan serta data Penjualan Rumah Eksisting AS untuk Januari pada Kamis.
Pekan ini akan ditutup dengan rilis indeks harga konsumen (CPI) AS untuk Januari pada Jumat pagi. (Aldo Fernando)