“Dalam jangka panjang, arah kebijakan ini konstruktif karena pengawasan yang lebih kuat terhadap ekspor komoditas strategis berpotensi meningkatkan penempatan (retensi) devisa hasil ekspor di dalam negeri, memperdalam likuiditas dolar AS domestik, serta menopang stabilitas rupiah,” tulis Edward dan Karen dalam risetnya.
Sucor menilai bank-bank Himbara seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) berpotensi menjadi penerima manfaat utama dari meningkatnya arus DHE. Peluang tersebut datang dari bisnis transaction banking, trade finance, cash management, hingga aktivitas treasury.
Meski demikian, Sucor mengingatkan bahwa kebijakan ini belum tentu langsung menjadi katalis positif bagi margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan.
Sebab, simpanan devisa eksportir berpotensi tetap membutuhkan biaya bunga apabila ditempatkan dalam deposito dolar AS berbunga.
Dari sisi kualitas aset, Sucor belum melihat tekanan langsung terhadap kredit bermasalah. Eksportir komoditas besar dinilai masih memiliki bantalan likuiditas yang cukup kuat untuk menghadapi masa transisi kebijakan.