sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Rekomendasi Saham Sido Muncul (SIDO) Dipangkas, Ada Apa?

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
11/06/2026 15:10 WIB
Kinerja PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) masih menghadapi tekanan akibat proses normalisasi persediaan di tingkat distributor.
Rekomendasi Saham Sido Muncul (SIDO) Dipangkas, Ada Apa? (Foto: Sido Muncul)
Rekomendasi Saham Sido Muncul (SIDO) Dipangkas, Ada Apa? (Foto: Sido Muncul)

IDXChannel - Kinerja PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) masih menghadapi tekanan akibat proses normalisasi persediaan di tingkat distributor serta meningkatnya biaya kemasan.

Kondisi tersebut mendorong CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) menurunkan rekomendasi saham SIDO dari Add menjadi Hold.

Sebagai catatan, dalam terminologi rekomendasi CGSI, Add berarti saham diperkirakan memberikan total imbal hasil (total return) lebih dari 10 persen dalam 12 bulan ke depan.

Sementara Hold menunjukkan saham diperkirakan menghasilkan total return antara 0 persen hingga positif 10 persen dalam periode yang sama.

Dalam riset yang diterbitkan analis CGSI Baruna Arkasatyo dan Edward Halim pada 10 Juni 2026, SIDO membukukan laba bersih sebesar Rp147 miliar pada kuartal I 2026, turun 37 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Realisasi tersebut berada di bawah ekspektasi analis maupun konsensus Bloomberg, masing-masing baru mencapai sekitar 12 persen dari proyeksi laba bersih tahun penuh 2026.

Pendapatan SIDO pada periode yang sama tercatat Rp640 miliar, turun 19 persen yoy.

Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan perkiraan CGSI dan konsensus yang masing-masing memperkirakan kontribusi sekitar 15 persen terhadap proyeksi pendapatan 2026.

CGSI menyebut pelemahan tersebut dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang masih terbatas, periode larangan operasional truk saat Lebaran yang lebih panjang delapan hari dibandingkan tahun sebelumnya, serta proses pengurangan stok distributor yang masih berlangsung sejak kuartal IV 2025.

Normalisasi persediaan dilakukan melalui sejumlah langkah, termasuk tidak adanya pengumuman kenaikan harga pada kuartal I 2026 yang membuat distributor tidak melakukan pembelian lebih awal untuk mengantisipasi kenaikan harga. Selain itu, SIDO juga secara sengaja mengurangi penjualan ke distributor (sell-in) untuk menekan tingkat persediaan.

Meski demikian, CGSI melihat permintaan dasar terhadap produk SIDO masih cukup kuat.

Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan penjualan ke konsumen akhir (sell-out) yang tercatat 20 poin persentase lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sell-in. Proses normalisasi persediaan diperkirakan selesai pada Mei 2026.

Di sisi margin, tekanan diperkirakan masih berlanjut hingga kuartal II-2026 akibat kenaikan biaya kemasan yang mulai berdampak pada akhir kuartal. Harga kemasan meningkat dalam kisaran satu digit menengah pada April 2026 dibandingkan rata-rata kuartal I-2026.

Menurut CGSI, biaya yang berkaitan dengan harga minyak terutama tercermin pada komponen kemasan, yang menyumbang sekitar 20 persen dari total biaya produksi (COGS).

Dengan mempertimbangkan tekanan tersebut, manajemen SIDO memangkas panduan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih 2026 dari sebelumnya 5-8 persen menjadi stagnan dibandingkan tahun sebelumnya.

CGSI juga menurunkan proyeksi penjualan SIDO untuk periode 2026-2028 sebesar 5-6 persen, seiring dengan pelemahan konsumsi dan proses normalisasi stok.

Estimasi margin kotor (gross profit margin/GPM) dan margin operasional juga dipangkas masing-masing sebesar 2-5 poin persentase dan 6-11 poin persentase akibat tekanan inflasi, biaya kemasan, serta ongkos distribusi.

Namun, tekanan biaya tersebut sebagian tertahan oleh kontrak harga tetap untuk sejumlah bahan baku utama seperti taurin, asam sitrat, dan aspartam hingga Desember 2026.

Dengan revisi tersebut, CGSI memperkirakan laba per saham (earnings per share/EPS) SIDO pada 2026 akan turun 12 persen yoy, atau 13 persen di bawah konsensus Bloomberg.

EPS diproyeksikan belum banyak mengalami pertumbuhan hingga 2028, dengan compound annual growth rate (CAGR) sekitar minus 0,4 persen untuk periode 2025-2028.

CGSI memangkas target harga SIDO menjadi Rp370 per saham dari sebelumnya Rp580 per saham.

Penyesuaian tersebut mencerminkan revisi proyeksi laba serta kenaikan asumsi biaya modal rata-rata tertimbang (weighted average cost of capital/WACC) menjadi 11,9 persen dari sebelumnya 10,8 persen akibat meningkatnya volatilitas makroekonomi.

Meski demikian, saham SIDO dinilai telah mengalami koreksi cukup dalam, yakni turun 31 persen sejak awal tahun (year to date/YTD).

Saat ini saham tersebut diperdagangkan pada valuasi 8,6 kali price to earnings (P/E) forward satu tahun, atau sekitar 2,4 standar deviasi di bawah rata-rata tiga tahun, dengan dukungan potensi imbal hasil dividen 2026 sekitar 9 persen.

CGSI menyebut katalis positif bagi SIDO dapat berasal dari membaiknya kondisi fiskal serta penurunan harga kemasan.

Sementara itu, risiko utama berasal dari meningkatnya persaingan dan kemungkinan berlanjutnya tekanan harga kemasan dalam jangka panjang. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement