“Mekanisme ekspor yang tersentralisasi dapat melemahkan ekosistem perdagangan berbasis pasar yang saat ini berjalan karena kekuatan penetapan harga akan terkonsentrasi pada entitas yang terhubung dengan negara,” katanya.
Chandran melanjutkan, “Hal ini dapat meningkatkan ketidakpastian pasar, mengurangi transparansi, dan membuka ruang pengaruh politik yang lebih besar terhadap arus perdagangan komersial.”
Chandran menambahkan kondisi tersebut juga bisa menguntungkan Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar kedua dunia.
Menurut dia, pembeli global dapat beralih ke Malaysia demi mencari kepastian pasokan dan kebijakan yang lebih stabil.
Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono, juga mengingatkan hubungan dagang yang selama ini terjalin dengan pembeli luar negeri dapat terganggu bila sentralisasi ekspor tidak dikelola secara hati-hati.