Kekhawatiran lain datang dari kelompok petani sawit kecil. Ketua Umum Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) Mansuetus Darto, menilai petani berpotensi dirugikan jika akses pasar dikendalikan melalui satu pintu.
“Ketika jumlah pembeli menyusut dan akses pasar dikendalikan oleh satu titik, posisi tawar petani otomatis menurun,” ujarnya. “Dalam situasi seperti itu, petani akan semakin menjadi penerima harga.”
Sebelumnya, pemerintah juga memperketat penertiban kebun sawit ilegal dan menyerahkan sekitar 4,12 juta hektare lahan kepada BUMN PT Agrinas Palma Nusantara.
Pelaku pasar kini menunggu kepastian detail kebijakan ekspor tersebut di tengah kekhawatiran produksi sawit pada paruh kedua tahun ini dapat tertekan akibat dampak El Nino. (Aldo Fernando)