"Enggak langsung kita minta untuk mereka, 'Pokoknya besok harus hitung emisi ya, pokoknya emisinya harus turun sekian ya', yang perlu dilakukan adalah menyederhanakan konsep keberlanjutan agar lebih mudah dipahami dan diterapkan sesuai kebutuhan mereka," katanya.
BRI pun memilih pendekatan bertahap melalui penyederhanaan konsep ESG serta program peningkatan kapasitas (capacity building). Edukasi tersebut dilakukan melalui berbagai ekosistem yang telah dimiliki perseroan, seperti Desa BRILiaN, LinkUMKM, hingga jaringan sekitar 1,2 juta AgenBRILink yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Yosephine, pendekatan berbasis komunitas dinilai lebih efektif dibandingkan melakukan pendampingan secara individual kepada jutaan pelaku UMKM.
"Melalui komunitas dan ekosistem, kita memberikan pemahaman sederhana mengenai keberlanjutan. Keberlanjutan bagi UMKM bukan hanya soal emisi, tetapi juga bagaimana mereka menjadi lebih tangguh menghadapi perubahan iklim," ujarnya.