Di sisi lain, lonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan memunculkan spekulasi bahwa Federal Reserve (Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Sentimen tersebut diperkuat oleh data lowongan kerja AS yang meningkat pada April 2026, menandakan pasar tenaga kerja masih solid.
Investor kini menantikan sejumlah data ekonomi AS, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP, indeks jasa ISM, dan data pesanan pabrik, menjelang rilis data nonfarm payrolls pada Jumat.
Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah turut tertekan setelah inflasi Mei 2026 tercatat 0,28 persen secara bulanan, naik dari 0,13 persen pada April. Secara tahunan, inflasi Indonesia mencapai 3,08 persen.
Kenaikan inflasi terutama dipengaruhi oleh harga pangan bergejolak (volatile food), harga energi, tarif yang diatur pemerintah (administered prices), serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 masih mencatat surplus sebesar USD89,1 juta, memperpanjang trend surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus tersebut ditopang oleh perdagangan nonmigas yang membukukan surplus USD3,53 miliar.