Dari eksternal, kekhawatiran baru atas eskalasi konfrontasi militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat semakin mengganggu pasokan minyak dari Timur Tengah.
Pasukan AS menyerang wilayah pesisir selatan Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang posisi-posisi AS di berbagai wilayah kawasan tersebut. Ini merupakan aksi saling serang paling intens antara kedua negara sejak bulan Juli.
Namun, pada Rabu, Trump menyatakan kampanye baru AS terhadap Iran tidak akan berlangsung dalam jangka waktu lama, sebuah pernyataan yang membantu meredakan sebagian kekhawatiran pasar mengenai pasokan dalam waktu dekat. Dia juga menyebutkan bahwa AS telah menargetkan radar, sistem rudal, serta kemampuan Iran yang terkait dengan pemasangan ranjau di sekitar Selat Hormuz.
Sementara data pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan juga turut menekan Dolar AS. Data ADP Employment Change menunjukkan bahwa jumlah pekerja sektor swasta bertambah 38.000 pada bulan Agustus, berada di bawah perkiraan 47.000 dan angka kenaikan sebelumnya sebesar 46.000.
Terkait kebijakan moneter, para pelaku pasar meningkatkan spekulasi bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga paling cepat pada pertemuan bulan September, terutama setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengambil sikap lebih tegas terhadap inflasi dalam Simposium Jackson Hole pekan lalu. Menurut perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan tanggal 15-16 September saat ini berada di kisaran 64 persen, naik dari 36 persen pada pekan sebelumnya.