IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Kamis (23/9/2026), naik 84 poin atau sekitar 0,47 persen ke level Rp17.679 per USD.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelantikan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia, menjadikannya perempuan pertama yang memimpin bank sentral tersebut direspons positif oleh pasar. Dalam sidang penetapannya, dia berkomitmen menjaga kebijakan tetap responsif terhadap tantangan ekonomi sembari mendorong stabilitas dan mendukung pertumbuhan.
“Arah kebijakan yang dia usung berfokus pada beberapa poin penting yaitu kebijakan bank sentral ke depan akan berlandaskan pada prinsip Impactful (berdampak), Inklusif, dan Integratif. Ketiganya disatukan dalam komitmen Sinergi Merah Putih untuk mendukung kemajuan ekonomi nasional,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Kamis (3/9/2026).
Selain itu, untuk menghadapi tantangan domestik seperti pengendalian inflasi, BI berkomitmen meningkatkan koordinasi erat dengan kementerian dan lembaga terkait guna menciptakan iklim sektor riil yang kondusif serta BI bersiap merumuskan kebijakan domestik yang responsif terhadap ketidakpastian global, termasuk tren suku bunga acuan negara maju yang bertahan tinggi (higher for longer).
Namun, laju kenaikan terbatas akibat kekhawatiran bahwa inflasi umum dan inflasi inti dapat meningkat lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang, yang dipicu oleh tingginya biaya input dan logistik, kembali naiknya harga energi, serta potensi gangguan pasokan pangan akibat fenomena El Nino.
Dari eksternal, kekhawatiran baru atas eskalasi konfrontasi militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat semakin mengganggu pasokan minyak dari Timur Tengah.
Pasukan AS menyerang wilayah pesisir selatan Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang posisi-posisi AS di berbagai wilayah kawasan tersebut. Ini merupakan aksi saling serang paling intens antara kedua negara sejak bulan Juli.
Namun, pada Rabu, Trump menyatakan kampanye baru AS terhadap Iran tidak akan berlangsung dalam jangka waktu lama, sebuah pernyataan yang membantu meredakan sebagian kekhawatiran pasar mengenai pasokan dalam waktu dekat. Dia juga menyebutkan bahwa AS telah menargetkan radar, sistem rudal, serta kemampuan Iran yang terkait dengan pemasangan ranjau di sekitar Selat Hormuz.
Sementara data pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan juga turut menekan Dolar AS. Data ADP Employment Change menunjukkan bahwa jumlah pekerja sektor swasta bertambah 38.000 pada bulan Agustus, berada di bawah perkiraan 47.000 dan angka kenaikan sebelumnya sebesar 46.000.
Terkait kebijakan moneter, para pelaku pasar meningkatkan spekulasi bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga paling cepat pada pertemuan bulan September, terutama setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengambil sikap lebih tegas terhadap inflasi dalam Simposium Jackson Hole pekan lalu. Menurut perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan tanggal 15-16 September saat ini berada di kisaran 64 persen, naik dari 36 persen pada pekan sebelumnya.
Fokus pasar hari ini adalah angka klaim pengangguran mingguan AS dan ISM Services PMI untuk bulan Agustus dengan fokus mingguan pada laporan data ketenagakerjaan utama AS Nonfarm Payrolls yang akan dirilis besok pada Jumat.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.630-Rp17.680 per USD.
(NIA DEVIYANA)