IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Senin (16/3/2026). Sempat menembus level psikologis di angka Rp17.006, rupiah masih berada di jalur pelemahan dengan turun 39 poin atau sekitar 0,23 persen ke level Rp16.997 per dolar AS.
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen panas dari kancah geopolitik Timur Tengah serta kegaduhan domestik terkait postur anggaran negara.
Ibrahim menyoroti memanasnya situasi di Selat Hormuz, terutama setelah adanya pergerakan pasukan marinir Amerika Serikat yang mengindikasikan potensi serangan darat.
Konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel ini diperparah dengan ultimatum bernilai miliaran dolar dari pihak Donald Trump untuk pemimpin baru Iran.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan lonjakan harga minyak dunia yang diprediksi bisa menyentuh level USD130 per barel, meski lembaga internasional seperti IAEA mencoba melakukan intervensi pasokan.
"Kita melihat bahwa dengan kenaikan harga minyak mentah yang sudah di atas USD100 per barrel, ada kemungkinan besar ini akan berdampak terhadap inflasi. Dengan inflasi ini kemungkinan besar Bank Central Amerika masih akan pertahankan suku bunga dan juga bisa menaikkan suku bunga melihat kondisi yang ada," kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (16/3/2026).