Selain itu, tingkat pengangguran AS turun tipis dari 4,4 persen menjadi 4,3 persen, disertai kenaikan pendapatan rata-rata per jam sebesar 0,4 persen secara bulanan (MoM).
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada kondisi fiskal Indonesia. Ibrahim menyoroti lonjakan belanja negara yang signifikan dalam APBN 2026 yang dapat memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas nilai tukar.
"Dari dalam negeri, tekanan fiskal Indonesia makin terasa seiring membengkaknya belanja negara dan besarnya kewajiban pembayaran utang pemerintah, di tengah penerimaan yang belum sepenuhnya pasti," ujar Ibrahim, Jumat (13/2/2026).
Ibrahim memaparkan bahwa belanja negara dalam APBN 2026 dipatok sebesar Rp3.842,7 triliun, meningkat drastis sekitar Rp391,3 triliun dibandingkan realisasi belanja pada 2025 yang berada di angka Rp3.451,4 triliun.
Melihat dinamika tersebut, nilai tukar rupiah diprediksi masih mengalami fluktuasi namun tetap terjaga di rentang tertentu. Ibrahim memproyeksikan rupiah dalam sepekan ke depan bergerak di kisaran Rp16.770 hingga Rp16.960 per dolar AS.
(Febrina Ratna Iskana)