IDXChannel – Di tengah perhatian pengelola indeks global MSCI terhadap persoalan investability atau kelayakan investasi pasar saham Indonesia yang disoroti dari sisi rendahnya free float, dinamika berbeda terlihat pada sejumlah emiten.
Alih-alih kekurangan saham beredar, beberapa emiten justru memiliki porsi kepemilikan publik yang sangat besar, tetapi kinerja harga sahamnya cenderung tertekan dan tidak likuid.
Berdasarkan penelusuran Tim Riset IDXChannel, PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) tercatat memiliki free float 100 persen, menandakan publik menjadi pemegang saham mayoritas emiten transportasi tersebut.
Namun kondisi tersebut tidak serta-merta menopang kinerja saham. Harga TAXI masih bergerak di level Rp22 dan belum menunjukkan pemulihan berarti dalam jangka panjang.
Situasi serupa terjadi pada PT HK Metals Utama Tbk (HKMU) yang juga mencatat free float 100 persen, dengan harga saham yang masih tertahan di kisaran gocap dan disuspensi oleh bursa seiring tekanan keuangan yang mendera perusahaan.
Saham dengan free float jumbo lainnya, PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk (CARS), memiliki porsi kepemilikan publik sebesar 94,51 persen. Harga saham CARS tercatat di kisaran Rp100 per saham.
PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) yang terafiliasi Happy Hapsoro juga memiliki free float jumbo, yakni 94,05 persen dan PT Wir Asia Tbk (WIRG) sebesar 93,89 persen.
Selain itu, sejumlah emiten lain juga tercatat memiliki porsi kepemilikan publik yang sangat besar. PT Envy Technologies Indonesia Tbk (ENVY) misalnya, mencatat free float sebesar 86,18 persen dengan harga saham berada di level Rp50 per saham.
PT Dewata Freightinternational Tbk (DEAL) memiliki free float 84,98 persen, namun harga sahamnya masih bertahan di level Rp6 per unit. Sementara itu, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dengan free float 84,83 persen.
Kondisi serupa terlihat pada PT Mitra International Resources Tbk (MIRA) yang memiliki free float 82,29 persen, dengan harga saham berada di level Rp31 per unit.
Lebih lanjut, PT Limas Indonesia Makmur Tbk (LMAS) dan PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI) masing-masing mencatat free float 78,78 persen dan 78,64 persen, dengan harga saham masih berkisar di level Rp50 dan Rp22 per unit.
PT Terregra Asia Energy Tbk (TGRA) juga masuk dalam daftar emiten dengan free float jumbo, yakni 77,57 persen.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa free float yang terlalu besar tanpa dukungan pemegang saham strategis dan fundamental yang kuat justru cenderung membuat saham kehilangan arah.
Pasar cenderung sulit menemukan penopang harga ketika seluruh saham beredar berada di tangan publik.
Sebelumnya, pasar mencermati langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berencana merevisi ketentuan batas minimal kepemilikan saham publik dari 7,5 persen menjadi 15 persen dalam waktu dekat.
Kebijakan ini disiapkan untuk meningkatkan likuiditas dan menindaklanjuti rekomendasi MSCI, yang menyoroti tingginya konsentrasi kepemilikan saham yang dinilai sebagai hambatan utama kelayakan investasi di Indonesia. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.