IDXChannel - Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) kembali menunjukkan betapa liar pergerakannya pada perdagangan Rabu (19/8/2026).
Emiten batu bara milik konglomerat Low Tuck Kwong itu sempat jatuh hingga menyentuh level auto rejection bawah (ARB) di Rp14.700 per unit, di awal pembukaan pasar sebelum berbalik arah dan melesat ke level tertinggi harian Rp18.650 hanya dalam kurang lebih 30 menit.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.48 WIB, BYAN diperdagangkan di level Rp16.875, melemah 2,3 persen dari secara harian.
Padahal pada awal sesi, saham ini sempat terjun bebas hingga 14,9 persen ke Rp14.700, persis di level ARB, sebelum pembalikan arah tajam yang sempat membawanya positif hingga 8 persen di level tertinggi hari ini.
Pergerakan lebih dari 20 poin persentase dalam satu sesi ini kembali menegaskan status BYAN sebagai salah satu saham paling volatil di Bursa Efek Indonesia (BEI), terlepas dari kapitalisasi pasarnya (market cap) yang menjulang.
Dengan harga saat ini, kapitalisasi pasar BYAN tercatat sekitar Rp567 triliun, berada di posisi kedua emiten berkapitalisasi jumbo di bursa, hanya tertinggal dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang masih kokoh di puncak klasemen dengan kapitalisasi sekitar Rp786 triliun.
Saham yang Benar-Benar Berputar di Pasar Amat Tipis
Ionisnya, besarnya kapitalisasi pasar BYAN berbanding terbalik dengan likuiditas riil sahamnya di pasar.
Secara resmi, free float BYAN yang tercatat di bursa berada di sekitar 21 persen. Artinya, sudah memenuhi ketentuan minimum free float BEI.
Namun, pengumuman resmi BEI dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) bertajuk "Kepemilikan Saham Terkonsentrasi Tinggi" (High Shareholding Concentration/HSC) per 30 Juni 2026 memberi gambaran yang lebih dalam. Sebanyak 98,50 persen dari total saham BYAN, baik milik pengendali maupun publik, dikuasai oleh sejumlah kecil pemegang saham/rekening efek.
Artinya, dari 21 persen saham publik yang secara resmi berstatus free float sekalipun, mayoritasnya kemungkinan besar juga ‘parkir’ di segelintir investor institusi atau strategis yang jarang bertransaksi, bukan tersebar ke banyak investor ritel yang aktif keluar-masuk pasar.
Kondisi ini membuat harga BYAN sangat rentan bergerak liar meski hanya dipicu transaksi bervolume kecil.
Data historis menunjukkan, sebelum rumor akuisisi mencuat, nilai transaksi harian BYAN kerap hanya berkisar ratusan juta rupiah.
Pada 10 Agustus misalnya, nilai transaksinya cuma sekitar Rp97,74 juta, bahkan pada 12 Agustus nilainya menyusut menjadi Rp46,94 juta.
Tak pelak lagi, ini adalah angka yang sangat kecil untuk emiten dengan kapitalisasi pasar ratusan triliun rupiah.
Pagi ini pun, kendati harganya bergejolak liar, nilai transaksi BYAN hingga pukul 09.48 WIB baru sekitar Rp53,74 miliar, dengan volume 33,14 ribu lot dan frekuensi 4.039 kali. Nilai tersebut kurang dari 0,01 persen dari kapitalisasi pasarnya sendiri.
Hal ini menggambarkan betapa tipisnya ‘bahan bakar’ yang sebenarnya dibutuhkan untuk menggerakkan harga saham ini naik-turun secara drastis.
Rumor Akuisisi Haji Isam Jadi Pemicu
Gejolak harga BYAN sepekan terakhir tak lepas dari rumor rencana pengambilalihan saham oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.
Kabar yang beredar menyebutkan, Haji Isam berencana mengakuisisi sekitar 62,2 persen saham BYAN yang berafiliasi dengan pemegang saham pengendali, Low Tuck Kwong.
Rumor ini menguat usai sebuah media online melaporkan, Haji Isam, Low Tuck Kwong, dan pemilik Republik Korpora Indonesia (RKI) Norman Joesoef terpantau meninjau area tambang BYAN di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu (15/8/2026).
Merespons permintaan penjelasan dari BEI, manajemen BYAN melalui Corporate Secretary Jenny Quantero menyampaikan dalam surat tertanggal 18 Agustus 2026 bahwa Perseroan tidak mengetahui adanya rencana pengambilalihan dan/atau akuisisi sebagaimana dimaksud dalam informasi yang beredar.
Namun, manajemen turut menambahkan bahwa pemegang saham pengendali menyampaikan kepada Perseroan bahwa dari waktu ke waktu, sebagai investor, mereka dapat saja mempertimbangkan berbagai kesempatan dan peluang untuk memaksimalkan investasi mereka di Perseroan.
Pihak Jhonlin Group sendiri enggan menanggapi saat coba dikonfirmasi soal kabar ini.
Sejak rumor ini pertama kali mencuat pada penutupan perdagangan Jumat (14/8) pekan lalu, saham BYAN langsung terbang ke batas auto rejection atas (ARA) 20 persen menjadi Rp14.400, lalu berlanjut menguat lebih dari 19,97 persen lagi pada perdagangan Selasa (18/8).
Ikut Menyeret IHSG Pagi Ini
Volatilitas BYAN pagi ini turut terasa dampaknya ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG sempat memperdalam koreksinya hingga 1,18 persen ke 6.373,81 pada pembukaan pasar, seiring anjloknya BYAN ke level ARB.
Namun begitu BYAN berbalik arah dan melesat ke zona hijau, tekanan pada IHSG ikut mengendur signifikan hingga tersisa pelemahan tipis di kisaran 0,03 persen pada pukul 09.48 WIB.
Pola ini mengulang apa yang terjadi sehari sebelumnya, saat lonjakan BYAN turut menjadi motor utama penguatan IHSG lebih dari 1 persen pada sesi pertama perdagangan Selasa (18/8).
Ketergantungan arah indeks pada satu saham dengan free float minim seperti ini kembali menjadi sorotan, mengingat bobot kapitalisasi BYAN yang besar membuat pergerakannya berdampak proporsional besar pula terhadap IHSG, meski likuiditas riilnya jauh dari mencerminkan ukuran kapitalisasinya. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.