Pertama, struktur biaya transaksi spot yang lebih kompetitif berpotensi mendorong migrasi transaksi dari platform luar negeri ke infrastruktur Central Financial X (CFX).
Peluang ini cukup besar mengingat sekitar 75 persen total volume transaksi kripto oleh investor Indonesia saat ini masih berlangsung di luar negeri dan di luar bursa.
Kedua, pasar derivatif kripto Indonesia masih sangat terbelakang. Erni mencatat volume transaksi derivatif hanya sekitar 0,13 kali volume transaksi spot, jauh di bawah rata-rata global sekitar 4-5 kali.
“CFX memiliki posisi unik untuk menangkap peluang tersebut, dan kami melihat derivatif sebagai pendorong utama kenaikan pendapatan ke depan,” ujarnya.
Sebagai satu-satunya bursa berlisensi yang diperbolehkan menawarkan produk derivatif, CFX dinilai memiliki posisi strategis untuk menangkap kesenjangan pertumbuhan tersebut.