Sementara itu, rencana sejumlah smelter China membangun pabrik baru di Indonesia masih menghadapi kendala, terutama akibat tingginya biaya energi serta risiko regulasi di tingkat lokal.
Prospek Sektor Komoditas Logam
Riset JPMorgan yang terbit pada 2 Desember 2025 memaparkan sejumlah katalis yang berpotensi menopang prospek sektor logam Indonesia, di tengah risiko yang masih membayangi kinerja industri ke depan.
JPMorgan menilai katalis positif sektor ini antara lain kenaikan atau stabilnya premi bijih nikel berkadar tinggi, perbaikan permintaan baja nirkarat, penurunan stok di London Metal Exchange (LME).
Selain itu, kebijakan pengendalian pasokan melalui persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang lebih ketat dan laju ekspansi kapasitas aluminium yang lebih lambat dari perkiraan juga dinilai dapat mendukung keseimbangan pasar.
Namun demikian, JPMorgan mengingatkan adanya sejumlah risiko utama.
Di antaranya adalah melambatnya penetrasi kendaraan listrik (EV) serta meningkatnya adopsi baterai LFP yang memiliki kandungan nikel lebih rendah.