Sejalan dengan narasi tersebut, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno menyampaikan, dikutip Stockbit, pemerintah membuka peluang untuk menurunkan angka produksi bijih nikel nasional pada 2026.
Kontrak berjangka (futures) tembaga melonjak menembus USD6 per pon pada Selasa (6/1), mencetak rekor tertinggi baru di tengah ekspektasi pengetatan pasokan global yang diperkirakan berlanjut tahun ini.
Mengutip Trading Economics, pelaku pasar semakin khawatir pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dapat memberlakukan tarif baru atas logam olahan.
Kebijakan tersebut berpotensi mengalihkan pengiriman ke AS dan membuat pusat-pusat perdagangan utama, seperti London dan Shanghai, mengalami kekurangan pasokan.
Kenaikan harga juga ditopang prospek permintaan global yang tetap kuat, terutama dari kebutuhan peningkatan jaringan listrik, proyek energi terbarukan, serta ekspansi pusat data.