Selain itu, ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), masih akan melanjutkan pemangkasan suku bunga tahun ini turut memperkuat sentimen risk-on di pasar keuangan global.
Sementara, futures aluminium di Inggris melesat menembus USD3.050 per ton, level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, pada Senin (5/1) seiring menguatnya indikasi pengetatan pasokan bagi industri manufaktur.
Mengutip Trading Economics, China, produsen aluminium terbesar dunia, kembali menegaskan prioritasnya untuk mencegah kelebihan kapasitas produksi logam guna meredam tekanan deflasi di sektor manufaktur.
Produksi aluminium China diperkirakan melampaui batas 45 juta ton tahun ini, sehingga memaksa para smelter menahan ekspansi produksi pada 2026.
Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha menjual pasokan yang dibatasi itu ke pasar domestik ketimbang mengekspornya, sehingga volume ekspor merosot 9,2 persen secara tahunan pada November.