Risiko lain datang dari potensi keterlambatan eksekusi proyek HPAL, tekanan harga aluminium apabila pertumbuhan permintaan tidak mampu mengejar pasokan, serta kenaikan harga batu bara dan listrik yang dapat menekan margin industri.
Sementara, riset BRI Danareksa Sekuritas yang terbit pada 18 Desember 2025 memproyeksikan sektor logam masih menawarkan prospek menarik pada tahun fiskal 2026.
Dalam laporan tersebut, BRI Danareksa memperkirakan pertumbuhan laba per saham (EPS) sektor logam dapat mencapai 27 persen pada tahun ini.
Proyeksi positif ini terutama ditopang oleh ekspektasi pertumbuhan volume produksi dari sejumlah proyek baru dan ekspansi yang tengah dijalankan emiten-emiten di sektor ini.
BRI Danareksa menyoroti beberapa perusahaan yang menjadi motor utama pertumbuhan, antara lain PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).