“Nikel dan batu bara akan dikenakan export duty + windfall tax. Tujuannya untuk menutup beban subsidi APBN dan meningkatkan penerimaan negara. Namun belum ada angka pasti mengenai besaran yang akan ditetapkan,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Ia menambahkan, jika melihat tren harga komoditas saat ini, sektor nikel masih memiliki ruang profitabilitas yang kuat di tengah wacana kebijakan tersebut.
“Jika kita melihat dari harga nikel sendiri, bisa diproyeksikan dengan jelas bahwa perusahaan-perusahaan komoditas, terutama nikel, termasuk yang akan mendapat keuntungan dari laba bersih,” katanya.
Secara spesifik, Michael juga menyoroti pergerakan saham INCO yang mengalami tekanan cukup dalam, namun tetap menarik dari sisi teknikal dan aliran dana.
“Secara technical analysis dan flow, INCO sendiri termasuk saham yang dikoleksi oleh investor asing di tahun ini. Area support INCO sendiri berada di angka 6.000 dengan potensi gap yang ditutup di angka 5.850. Hal ini menarik bagi investor yang ingin mengoleksi saham INCO,” tutur Michael.