Grup Lippo tercatat sebagai salah satu yang paling dominan, dengan sejumlah emiten seperti PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU), dan PT Lippo General Insurance Tbk (LPGI), yang seluruhnya memiliki free float di bawah 10 persen.
Grup Salim juga menempatkan banyak emiten dalam kategori serupa, antara lain PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS), PT DCI Indonesia Tbk (DNET), PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS), serta PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI).
Sementara itu, Grup Sinarmas memiliki sejumlah saham dengan free float satu digit (kisaran 7-9 persen), seperti PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI), PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), dan LIFE.
Kelompok usaha Barito besutan Prajogo Pangestu juga tercatat memiliki beberapa saham ber-free float rendah, antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA). Selain itu, Grup Djarum, Panin, Haji Isam, hingga Bakrie masing-masing memiliki lebih dari satu emiten dengan porsi kepemilikan publik terbatas.
Sorotan terhadap struktur kepemilikan ini muncul bersamaan dengan derasnya aksi jual investor asing.