AALI
8250
ABBA
214
ABDA
6025
ABMM
3960
ACES
610
ACST
176
ACST-R
0
ADES
7175
ADHI
715
ADMF
8300
ADMG
167
ADRO
3960
AGAR
292
AGII
2350
AGRO
550
AGRO-R
0
AGRS
90
AHAP
85
AIMS
242
AIMS-W
0
AISA
164
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1635
AKRA
1350
AKSI
316
ALDO
655
ALKA
290
ALMI
392
ALTO
181
Market Watch
Last updated : 2022/09/30 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
534.58
0.21%
+1.10
IHSG
7040.80
0.07%
+4.60
LQ45
1011.48
0.24%
+2.44
HSI
17222.83
0.33%
+56.96
N225
25937.21
-1.84%
-484.84
NYSE
13608.29
-1.63%
-224.91
Kurs
HKD/IDR 1,939
USD/IDR 15,260
Emas
819,860 / gram

Tahun Depan, Harga Minyak Paling Mahal Diyakini USD100 per Barel

MARKET NEWS
Tim IDXChannel
Kamis, 22 September 2022 15:46 WIB
Bank of America (BoA) memperkirakan bahwa peningkatan harga minyak AS di tahun depan sebesar USD4 menjadi USD94 per barel.
Tahun Depan, Harga Minyak Paling Mahal Diyakini USD100 per Barel (foto: MNC Media)
Tahun Depan, Harga Minyak Paling Mahal Diyakini USD100 per Barel (foto: MNC Media)

IDXChannel - Kalangan pelaku pasar memperkirakan bahwa ruang gerak harga minyak mentah AS bakal berada di kisaran USD80 hingga USD100 per barel di tahun depan. 

Minyak berjangka untuk bulan Oktober diperdagangkan pada USD85 per barel, dengan prospek untuk 2023 sekitar USD79 per barel. Posisi harga ini terbilang melandai signifikan bila dibandingkan posisi awal tahun, di mana minyak diperdagangkan hingga lebih dari USD100 per barel seiring dimulainya perang Rusia-Ukraina.

Sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (20/9/2022), Bank of America (BoA) memperkirakan bahwa peningkatan harga minyak AS di tahun depan sebesar USD4 menjadi USD94 per barel.

"Pemotongan produksi sederhana tetapi dapat dibuktikan pada pertemuan OPEC+ terakhir," tulis pernyataan resmi BoA, dalam laporan tersebut.

Kelompok produsen tersebut pada awal September lalu telah sepakat untuk memangkas produksi sebesar 100.000 barel per hari (bph) atau 0,1 persen dari total permintaan global, meski di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan dan kekhawatiran melemahnya ekonomi global.

Survei Barclays, sekitar 56 persen peserta di CEO Energy & Power Conference mengindikasikan bahwa mereka memperkirakan persediaan minyak global akan lebih rendah selama 12 bulan ke depan.

Gangguan pada rantai pasokan serta inflasi akan terus menganggu produksi bahan bakar fosil. Responden survei mengatakan bahwa mereka memperkirakan produksi minyak AS akan tumbuh sebesar 500.000 barel per hari menjadi 700.000 barel per hari. 

Administrasi Informasi Energi, Badan Statistik Departemen Energi AS, memperkirakan produksi minyak rata-rata 12,6 juta barel per hari tahun depan, naik sekitar 800.000 barel per hari dari perkiraan 11,8 juta barel per hari tahun ini.

Peserta survei Barclays mengantisipasi inflasi ladang minyak untuk tetap menjadi masalah, dengan 68% menyarankan biaya akan melonjak menjadi 20% pada tahun 2023. (TSA)

Penulis: Nur Pahdilah

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD