Menteri Keuangan Scott Bessent pada hari Kamis berupaya meredakan kekhawatiran dengan menyatakan kepada CNBC bahwa besaran rencana pembelian kembali (buyback) bisa jadi melebihi angka USD4 miliar yang telah diumumkan, serta menyoroti adanya "perangkat kebijakan yang luas" untuk menurunkan tingkat imbal hasil.
"Meskipun intervensi Bessent sempat menenangkan pasar obligasi, para investor tetap khawatir akan potensi lonjakan inflasi lanjutan akibat konflik dengan Iran serta lintasan utang nasional yang tidak berkelanjutan," ujar CEO Strategy Asset Managers, Tom Hulick, kepada Investing.com.
Kendati demikian, lanjut Hulick, perlu dicatat bahwa negara-negara seperti Jepang telah mempertahankan tingkat utang yang jauh melampaui level AS saat ini selama berpuluh-puluh tahun. Penting juga untuk dipahami bahwa lonjakan imbal hasil baru-baru ini tidak serta-merta mengindikasikan akan segera terjadinya krisis fiskal atau inflasi di AS.
"Hal ini tercermin dari bentuk kurva imbal hasil; meskipun terjadi pelandaian yang berkurang (steepening), selisih (spread) antara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun dan 30 tahun masih berada sedikit di atas 1 persen. Kami terus memantau hal ini dengan cermat, namun jika pasar benar-benar mengantisipasi krisis fiskal di AS, kita semestinya melihat kurva yang jauh lebih curam daripada itu," lanjut Hulick.
Para pelaku pasar kini menantikan Simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole pekan depan untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah suku bunga.