sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Kembali Anjlok, Pasar Khawatir Konflik Timur Tengah Picu Inflasi Tinggi

Market news editor Dhera Arizona Pratiwi
03/03/2026 22:31 WIB
Indeks utama Wall Street turun lebih dari 2 persen pada pembukaan perdagangan Selasa (3/3/2026), waktu setempat.
Wall Street Kembali Anjlok, Pasar Khawatir Konflik Timur Tengah Picu Inflasi Tinggi. (Foto Istimewa)
Wall Street Kembali Anjlok, Pasar Khawatir Konflik Timur Tengah Picu Inflasi Tinggi. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Indeks utama Wall Street turun lebih dari 2 persen pada pembukaan perdagangan Selasa (3/3/2026), waktu setempat. S&P 500 mencapai titik terendahnya dalam kurun lebih dari dua bulan, karena investor bersiap menghadapi dampak meluasnya konflik Timur Tengah terhadap harga minyak, inflasi, dan perdagangan global.

Dilansir dari Reuters, ancaman Iran untuk menyerang kapal apa pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz, dikombinasikan dengan penghentian produksi oleh beberapa produsen minyak dan gas Timur Tengah, telah mendorong kenaikan tarif pengiriman global dan harga minyak mentah serta gas alam.

Selat tersebut, yang merupakan titik rawan kritis, mengangkut sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia.

"Investor khawatir akan inflasi tambahan yang akan datang. Kekhawatiran utama adalah (harga minyak) naik hingga lebih dari USD100 per barel dan tetap di sana," kata Manajer Portofolio Senior di Dakota Wealth, Robert Pavlik.

Industri seperti maskapai penerbangan dan perjalanan yang terpapar harga minyak mentah kembali terpukul untuk hari kedua. Saham Delta dan Royal Caribbean masing-masing turun sekitar 3 persen dan 4 persen.

Dow Jones Industrial Average dibuka turun 1.083,69 poin atau 2,22 persen menjadi 47.821,09, S&P 500 (.SPX) merosot 141,91 poin atau 2,06 persen menjadi 6.739,71, dan Nasdaq Composite (.IXIC) melemah 483,41 poin atau 2,12 persen menjadi 22.265,45.

Penurunan harga saham terjadi secara luas dan semua sektor utama di S&P 500 diperdagangkan dalam zona merah.

Investor khawatir harga minyak yang lebih tinggi dapat memicu inflasi dan mempersulit keputusan kebijakan bank sentral yang sudah tertekan oleh kenaikan harga akibat tarif.

Di luar geopolitik, investor bergulat dengan ketidakpastian tentang seberapa besar dampak model AI terhadap bisnis tradisional, sambil juga menilai volatilitas di pasar kredit swasta.

Saham MongoDB anjlok 26,3 persen setelah perusahaan perangkat lunak basis data tersebut memperkirakan laba kuartalan di bawah perkiraan analis.

Saham Target naik 4,4 persen setelah CEO baru Michael Fiddelke berjanji untuk kembali meningkatkan penjualan dan mengeluarkan prospek laba yang sangat optimistis, menandakan pemulihan di perusahaan ritel yang sedang kesulitan ini.

Jumlah saham yang turun melebihi jumlah saham yang naik dengan rasio 14,21 banding 1 di NYSE dan 8,21 banding 1 di Nasdaq.

Indeks S&P 500 mencatat 10 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan tiga rekor terendah baru, sementara Nasdaq Composite mencatat 14 rekor tertinggi baru dan 110 rekor terendah baru.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement