Piala Dunia 2026 menjadi turnamen putra pertama yang menggunakan struktur kemitraan komersial terbaru FIFA. Dalam skema tersebut, sponsor memperoleh berbagai hak, antara lain penggunaan merek resmi Piala Dunia, eksposur di stadion dan kanal digital FIFA, perlindungan dari praktik ambush marketing, akses program hospitality, hingga peluang aktivasi melalui siaran resmi.
FIFA juga memberikan fleksibilitas kepada sponsor untuk menyesuaikan aktivasi sesuai tujuan bisnis masing-masing. Hak komersial tersebut menjadi salah satu penyumbang utama kinerja keuangan FIFA. Organisasi itu menyatakan berada di jalur untuk melampaui target pendapatan sebesar USD13 miliar atau sekitar Rp234 triliun pada siklus 2023-2026.
Hingga akhir 2025, sekitar 93 persen dari total pendapatan yang dianggarkan telah berhasil dikontrak. Pada 2025, pendapatan dari hak pemasaran mencapai USD965 juta atau sekitar Rp17,37 triliun, melampaui target anggaran sebesar 21 persen.
Sementara itu, pendapatan lisensi tercatat sebesar USD97 juta atau sekitar Rp1,75 triliun, atau sekitar 61,7 persen di atas target yang ditetapkan. Kenaikan tersebut didorong oleh royalti dari penggunaan merek dagang dan lisensi produk FIFA.
FIFA memperkirakan lebih dari 6,5 juta pengunjung akan datang ke berbagai kota tuan rumah selama turnamen berlangsung. Jumlah pemirsa global juga diproyeksikan mencapai miliaran orang.