“Kami sudah menempatkan beberapa RSUD sebagai rumah sakit sentinel untuk memberikan monitoring yang lebih ketat menangkap adanya suspek kasus Hantavirus yang ada di masyarakat,” tutur dia.
Dinkes juga telah menyiapkan tim gerak cepat yang akan bergerak apabila terjadi peningkatan kasus secara signifikan. Selain memantau kasus, Dinkes DKI Jakarta juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap pola penularan Hantavirus.
Dijelaskan bahwa penularan paling sering terjadi melalui inhalasi aerosol, yakni ketika partikel dari kotoran, air liur, maupun urin tikus yang terinfeksi mengering lalu bercampur dengan udara dan terhirup manusia.
“Yang paling utama ada dengan inhalasi aerosol, jadi dari kotoran tikus, air liur maupun kencingnya, kalau kemudian dia kering lalu bercampur dengan partikel udara, itu bisa terhirup oleh kita,” katanya.
Selain melalui udara, penularan juga dapat terjadi lewat kontak langsung dengan sekresi tikus maupun gigitan tikus yang terinfeksi. Karena itu, masyarakat diminta berhati-hati saat membersihkan gudang, area lembap, atau tempat yang banyak ditemukan tikus dan kotorannya.