Dia pun mengaku sempat berkunjung kesana guna berkoordinasi dengan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten sampai masyarakat adat di wilayah Biak terkait rencana itu.
“Kajian sudah sangat lama, kita sudah melakukan kajian sejak awal 90-an. Itu perencanaan sudah sangat lama sekali. Sehingga memang masyarakat di sana pun sudah menanti-nanti, ini kapan ini jadinya?,” kata Arif.
Disinggung terkait potensi konflik dan masyarakat adat yang ada disana, ia menegaskan bahwa pihaknya sudah mendiskusikan rencana pembangunan Badan Antariksa Nasional itu dengan perwakilan masyarakat adat di Biak. Bahkan perwakilan dari tokoh adat sendiri telah menandatangani persetujuan pembangunan itu.
“Alhamdulillah sebagian besar tokoh adat juga sudah menandatangani persetujuan terkait dengan pembangunan bandar antariksa yang di Biak ini. Tentu yang kita perlu kita terus tekankan adalah bagaimana bandar antariksa juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, itu yang kita menjadi concern kita,” kata dia.
Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa biak hanya salah satu titik utama yang direncanakan. Saat ini BRIN sendiri sedang melakukan kajian terhadap lokasi-lokasi lain yang memiliki potensial untuk dibangun Bandar Antariksa Nasional guna peluncuran satelit milik Indonesia kedepannya.
“Ada beberapa opsi dan sekarang tim sedang terus mengkaji,” kata Arif.
(Nur Ichsan Yuniarto)