sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Inggris Sebut 40 Negara Bahas Pembukaan Kembali Selat Hormuz setelah Blokade Iran

News editor Febrina Ratna Iskana
02/04/2026 23:04 WIB
Sekitar 40 negara sedang membahas tindakan bersama untuk membuka kembali Selat Hormuz guna menghentikan Iran menyandera jalur ekonomi global tersebut.
Inggris Sebut 40 Negara Bahas Pembukaan Kembali Selat Hormuz setelah Blokade Iran. (foto: iNews Media Group)
Inggris Sebut 40 Negara Bahas Pembukaan Kembali Selat Hormuz setelah Blokade Iran. (foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Sekitar 40 negara sedang membahas tindakan bersama untuk membuka kembali Selat Hormuz guna menghentikan Iran menyandera jalur ekonomi global tersebut.

Hal itu diucapkan Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper pada Kamis (2/4/2026), setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pengamanan jalur air tersebut merupakan tanggung jawab negara lain.

Cooper mengatakan kecerobohan Iran dalam memblokade jalur air tersebut menghantam keamanan ekonomi global. Hal itu disampaikan saat ia memimpin pertemuan virtual, yang meliputi Prancis, Jerman, Kanada, Uni Emirat Arab, dan India.

"Kita telah melihat Iran membajak jalur pelayaran internasional untuk menyandera ekonomi global," kata Cooper dalam pidato pembukaan yang disiarkan ke media sebelum sisa pertemuan berlangsung secara tertutup.

Amerika Serikat tidak menghadiri pembicaraan tersebut, kata seorang pejabat. Diskusi melibatkan perwakilan dari sekitar 40 negara, berlangsung setelah Trump mengatakan pada Rabu malam bahwa Selat tersebut dapat terbuka secara alami dan merupakan tanggung jawab negara-negara yang bergantung pada jalur air tersebut untuk memastikan jalur itu tetap terbuka.

Iran secara efektif telah menutup jalur perairan utama, yang mengangkut sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia, sebagai balasan atas serangan AS-Israel yang dimulai pada akhir Februari. Pembukaan kembali jalur air tersebut telah menjadi prioritas bagi pemerintah di seluruh dunia karena harga energi melonjak.

Negara-negara Eropa awalnya menolak permintaan Trump untuk mengirim angkatan laut mereka ke daerah tersebut karena kekhawatiran akan terseret ke dalam konflik.

Namun, kekhawatiran tentang dampak kenaikan biaya energi terhadap ekonomi global telah mendorong mereka untuk mencoba membentuk koalisi untuk melihat bagaimana mereka dapat membela kepentingan mereka sendiri.

Para diplomat Eropa mengatakan pembentukan koalisi masih dalam tahap awal, dengan Inggris dan Prancis sebagai pemimpinnya. Para pejabat mengatakan diskusi pada  Kamis akan fokus pada negara mana yang siap untuk berpartisipasi.

Juru bicara Angkatan Bersenjata Prancis, Guillaume Vernet, mengatakan dalam konferensi pers pada Kamis bahwa proses tersebut akan dilakukan secara bertahap dan tidak dapat dilakukan sampai permusuhan mereda atau berakhir.

Fokus utama pembicaraan adalah bagaimana memastikan pemilik kapal merasa cukup yakin agar kapal dapat melanjutkan perjalanan melalui wilayah tersebut dan menurunkan premi asuransi.

“Pada akhirnya juga perlu ada koordinasi dengan Iran untuk memastikan adanya jaminan keamanan bagi kapal,” kata Vernet, sesuatu yang saat ini tidak mungkin terjadi.

Pembicaraan juga telah dimulai mengenai aset militer apa yang dapat disediakan. "Kita perlu mengumpulkan sejumlah kapal yang cukup dan memiliki kemampuan koordinasi di udara, di laut, serta kemampuan untuk berbagi intelijen," katanya.

Inggris mengatakan akan menjadi tuan rumah pertemuan para perencana militer untuk pembicaraan minggu depan.

Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron yang berbicara di Korea Selatan pada Kamis mengatakan bahwa merebut Selat secara militer adalah pilihan yang "tidak realistis".

"Proses itu akan memakan waktu yang tidak pasti, dan akan membuat semua orang yang melewati Selat ini terpapar risiko pesisir dari Garda Revolusi, serta rudal balistik," katanya.

(Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement